Ali Syamsudin Arsi
NEGARA HILANG CINTA
derap kaki itu pertanda desah gemuruh suara
derap gemuruh membadai suara-suara dibungkam sangkar udara bertuba lebam tersungkur darah dan tulang rebahkan harapan jauh ke depan tak berserak pecah retak terbuncah keping kaca pecah menusuk jantung pecah menusuk sumsum pecah menusuk empedu pecah menusuk belikat pecah menusuk bilik-serambi pecah menusuk syaraf otak kulit ari daging lemak tengkorak tulang iga ruas jemari bulu ketiak rambut lubang hidung gendang telinga retak bibir mulut nganga hay negara jahitan demi jahitan pekik jejak perjalanan menuju kenyataan cinta tapi cinta berwujud kokang senjata tapi cinta tajam belati menikam bunga-bunga tapi cinta jadi api mengepung rindu dan cita-cita anak jejak catatan sejarah tapi cinta disulap luka-luka disulap ber luka-luka disulap seluka-luka dari titik temu pusaran gejolak resah nganga berjuta-juta nganga laut tanah udara semakin rapuh tak terjaga lamat hilang getar cinta puing dan amis menebal asap rentang jarak mengecilkan batas pandang angkuh dan sombong jemari orang-orang bebal di panas pelatuk senjata hilang cinta sebar pijaran percik api nestapa luka, luka semesta terbuka luka semesta koyak layar hamparan bendera pusaka bagaimana cara terbaik menjelaskan kepada berlapis pewaris derap kaki berpijak di hamparan buih garis pantai sepanjang desir gelombang bagaimana cara meluruskan panorama lekuk indah bukit gunung hutan sungai kepada telapak tangan tengadah gemetar dan lumpuh bagaimana cara mengurai alasan kepada tatap kosong mata bola waktu ketika lapis-lapis sumber napas penuh racun hampa melilit memperkosa
negara hilang cinta
peristiwa demi peristiwa perlahan menyempitkan narasi bahasa ibu kepada anak-anak kasih sayangnya
majelis demi majelis menawarkan harga nilai angka tak lagi peduli tentang ukuran bahan dan proses nilai dalam nilai landas nilai etika budaya
negara hilang cinta
pagar kawat racun bersemayam di ujung tajam duri kitab aturan garis lintas adalah darah dari tulang jantung tulang hati tulang kepala semakin mengepung jerit di udara
udara kita semakin hari sesak memadat teteskan mata luka ber luka-luka seluka-luka diluka-luka, luka dari nganga membuka hilang cinta : negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta negara hilang cinta
negara
salam gumam asa
Biodata :
Asa adalah nama panggilan dari Ali Syamsudin Arsi, lahir di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan pada 5 Juni 1964, dengan nama Syamsudin. Alumnus Jurusan Bahasa dan Seni Universitas Terbuka. Menulis puisi, cerpen, dan esai sastra sejak 1980-an. Tulisannya dipublikasikan diberbagai media cetak dan elektronik. Buku kumpulan puisi tunggalnya, antara lain: ASA (1986), Seribu Ranting Satu Daun (1987), Tafsir Rindu (1989, 2005), Anak Bawang (2004), Bayang-bayang Hilang (2004), Pesan Luka Indonesiaku (2005), Bukit-bukit Retak (2006), Gemuruh (2014), Buku Setengah Tiang (2015), dan Stadium Tanah Ibu (2020). Tujuh buku karya sastranya bertitel ‘Gumam Asa’ yang telah diterbitkan adalah: Negeri Benang pada Sekeping Papan (2009), Tubuh di Hutan-hutan (2009), Istana Daun Retak (2010), Bungkam Mata Gergaji (2011), Gumam Desau dan Esai-esai (2013), Cau Cau Cua Cau (2014), dan Jejak Batu Sebelum Cahaya (2014). Juga menerbitkan satu buku Pantun Berkait (2015). Sejumlah puisinya juga dimuat dalam puluhan antologi bersama. Di sela profesinya sebagai seorang guru di SMP Negeri 11 Banjarbaru, ia juga mengelola lembaga Kindai Seni Kreatif yang didirikan sejak tahun 2016, di Landasan Ulin Utara, Banjarbaru.
(*by Prasasti Sastra Pena Sastra)
Attention : Bagi Anda yang ingin berkomentar, silahkan mengunjungi media sosial kami, seperti yang tertulis di footnotes paling bawah halaman ini!