Ardhanariswari Trenggono
Ibu
Ibu
Enam puluh satu tahun usiamu
Namun wajahmu masih begitu ayu
Meski keriput mulai menghiasi rona ayumu
Namun tak mengurangi kecantikanmu
Ibuku … Semoga sehat selalu
Ibu
Engkaulah pahlawanku
Yang telah mengandungku hingga payahmu
Yang telah melahirkanku hingga pertaruhkan nyawamu
Yang telah merawatku sepenuh jiwa ragamu
Yang telah membesarkanku dengan cintamu
Yang selalu mendampingiku dengan kasihmu
Tanpa lelah dan ragu menggelayutimu
Ibu
Wanita ayu dengan dua cucu
Pancaran sinar aksamu selalu menenangkan sanubariku
Ingin selalu kupeluk ragamu
Ingin selalu kuikuti akaramu
Ibu
Buntara menjadi saksi perjuanganmu
Merajut asa tak lekang waktu
Peluh tak buatmu mengeluh
Letih tak membuat kau tertatih wahai ibuku
Ibu
Wanita tangguhku
Saat waktu mengoyak ragamu
Tak menghalang semangatmu
Tarian jemarimu menyuguhkan semangkuk sup rasa rindu
Ibu
Kala aku bersenandung dalam mimpiku
Bibirmu tak hentinya menguntai doa untuk anakmu
Asa terpatri dalam lubuk sanubarimu
Untaian doa terbaik untuk anakmu
Ibu
Kini langkahmu tertatih tak setangguh dulu
Tulangmu tak sekuat dua puluh tahun yang lalu
Namun asamu tetap berpendar bagai bagaskara menyinari persadaku
Ibu
Saat hatimu terdayuh pilu
Tak ada yang tahu keluh kesahmu
Hanya kepada Allah SWT engkau mengadu
Betapa kuatnya dirimu
Duhai wanita tangguhku
Ibu
Tahukah engkau wahai ibuku
Saat aku terpisah jauh darimu
Betapa netra ini tak mampu membendung bulir kesedihanku
Setiap saat terbayang ronamu
Setiap waktu terbayang senyummu
Setiap hari terbayang wangimu
Ingin kuberlari berputar arah dan mendekapmu
Ibu
Tahukah engkau wahai ibuku
Saat aku terpisah jauh darimu
Kurindu tatapan teduhmu
Tatapan yang kurindu bagaikan indurasmi yang menerangiku
Ibu
Asmaraloka yang kau miliki selalu buatku rindu hingga nadiku
Belaianmu yang membuatku hanyut dalam mimpi indahku
Bayangan ambu masakanmu yang selalu menyeruak hingga menembus atmaku
Ibu
Tahukah engkau betapa tersayat kalbuku
Saat bulir bening membasahi netra indahmu
Tersayat … Kelam bagai nabastala temaram tanpa bintang oh ibuku
Jangan bersedih wahai bidadariku
Ibu
Yang selalu kusebut dalam doaku
Yang ingin kubahagiakan selalu
Harsa ingin selalu kusuguhkan untukmu
Meskipun semua itu tak mampu membalas pengorbananmu oh ibuku
Semoga Allah SWT senantiasa melindungimu
Semoga Allah SWT panjangkan umurmu
Supaya diri ini dapat berbuat lebih banyak untukmu
Ibu
Kasihmu bagai selaksa tanpa matrik membelenggu
Terima kasih kuucapkan padamu oh ibuku
Ingin kudekap ragamu
Sambil berbisik aku cinta ibu
Biodata :
Ardhanariswari Trenggono, lahir di Pacitan, pada 28 April 1986 dan tinggal di Jl DR Sutomo, Pacitan, Jawa Timur. Email ardhanariswari.trenggono@gmail.com. Dia menyelesaikann pendidikannya di Institut Pertanian Bogor tahun 2009 Fakultas Pertanian, Jurusan Budidaya Pertanian, Bidang Studi Hortikultura. Ardhanariswari bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Pacitan sebagai karyawan Non ASN dan aktif sebagai pengurus Forum Lingkar Pena Cabang Pacitan.
(*by Prasasti Sastra Pena Sastra)
Attention : Bagi Anda yang ingin berkomentar, silahkan mengunjungi media sosial kami, seperti yang tertulis di footnotes paling bawah halaman ini!